SEMARANG | kabarjateng.id – Festival Jawa Tengah Syariah (Fajar) 2026 tak hanya menjadi ajang promosi produk halal, tetapi juga dimanfaatkan sebagai ruang memperluas akses pasar bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Digelar di Queen City Mall Semarang, 6–9 Agustus 2026, festival tersebut mempertemukan pelaku usaha halal dengan masyarakat sekaligus memperkuat mata rantai industri halal di Jawa Tengah.
Sejumlah UMKM bahkan merasakan peningkatan penjualan signifikan selama mengikuti kegiatan tersebut. Salah satunya Toros Farm Sulaimaniyah asal Magelang.
Pemilik usaha, Roni Abdul Ghoni, mengatakan keikutsertaannya dalam Fajar telah dilakukan selama empat tahun.
Menurutnya, festival menjadi salah satu sarana efektif untuk memperkenalkan produk sekaligus menjangkau konsumen baru.
Pada kondisi normal, penjualan produknya berada di kisaran Rp1 juta hingga Rp2 juta per hari.
Namun, selama festival berlangsung, omzet tersebut meningkat menjadi sekitar Rp5 juta hingga Rp10 juta sehari.
“Festival seperti ini sangat membantu UMKM karena produk kami semakin dikenal masyarakat,” ujar Roni.
Hal senada disampaikan Aris Agung Nugroho, pelaku usaha Dawet Ayu Durian Pak Sarjohadi dari Banjarnegara.
Ia mengaku sudah empat kali berpartisipasi dalam Fajar untuk memperluas pengenalan minuman khas daerah yang diproduksinya.
Aris berharap kegiatan serupa tetap digelar secara berkelanjutan karena memberikan ruang bagi UMKM daerah untuk bertemu langsung dengan konsumen dari berbagai wilayah.
Di sisi pemerintah, pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Jawa Tengah terus diarahkan agar tidak berhenti pada kegiatan promosi.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengatakan, Fajar merupakan bagian dari kolaborasi antara Pemprov Jateng dan Bank Indonesia yang telah berlangsung dalam waktu cukup panjang.
Menurut Taj Yasin, penguatan ekonomi syariah akan menjadi salah satu perhatian pembangunan pada 2027.
Pengembangannya akan dikaitkan dengan konsep ekonomi berkelanjutan serta sektor pariwisata yang semakin ramah bagi wisatawan muslim.
“Kita bekerja sama dengan Bank Indonesia sudah lama untuk menumbuhkan ekonomi syariah,” kata Taj Yasin seusai mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi membuka Fajar 2026, Kamis, 6 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, pembangunan ekosistem halal dilakukan secara menyeluruh, mulai dari sektor produksi hingga layanan kepada konsumen.
Beberapa langkah yang dilakukan antara lain pembangunan rumah potong hewan halal di Magelang dan rumah potong ayam di Jepara yang melibatkan pondok pesantren.
Selain itu, pemerintah juga mendorong pengembangan kawasan Kuliner Halal, Aman, dan Sehat (KHAS).
Konsep tersebut dinilai dapat memperkuat daya tarik destinasi wisata Jawa Tengah, terutama bagi wisatawan muslim dari luar negeri.
Taj Yasin menilai fasilitas kuliner yang memiliki jaminan halal, ditambah ketersediaan tempat ibadah dan pelayanan yang ramah muslim, dapat menjadi nilai tambah dalam pengembangan pariwisata.
Ia menegaskan, pertumbuhan ekonomi syariah tidak semestinya hanya diukur berdasarkan peningkatan transaksi.
Lebih jauh, ekosistem tersebut harus mampu memberikan dampak terhadap kesejahteraan masyarakat dan perkembangan UMKM.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah M. Noor Nugroho mengatakan Fajar 2026 mengangkat tema “Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi dan Keuangan Syariah yang Inklusif dan Berkelanjutan melalui Sinergi Penguatan Literasi dan Halal Value Chain.”
Menurut Noor, penguatan rantai nilai halal perlu dilakukan dari berbagai sisi, termasuk sertifikasi rumah potong hewan dan unggas, proses penggilingan, hingga sertifikasi produk UMKM.
Dengan pertumbuhan sisi produksi dan konsumsi secara berimbang, ekonomi syariah diharapkan mampu menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru di Jawa Tengah.
Fajar tahun ini juga menghadirkan berbagai program pendukung.
Salah satunya Inspirational Talk yang mempertemukan pelaku usaha dengan organisasi perangkat daerah untuk membahas pengembangan pariwisata ramah muslim.
Ada pula Halal Experience yang menghadirkan 18 tenant kuliner serta sembilan stan edukasi.
Di area tersebut tersedia Halal Value Chain Hub yang memberikan konsultasi dan pendampingan kepada pelaku usaha yang ingin mengurus sertifikasi halal.
Sementara Financial Hub menyediakan berbagai informasi dan konsultasi terkait layanan keuangan, perlindungan konsumen, aplikasi pembukuan SIAPIK, Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK, serta edukasi Bank Indonesia.
Konsep keberlanjutan juga mendapat ruang melalui Sustainable Hub yang mengangkat isu fesyen berkelanjutan.
Fajar 2026 berlangsung hingga 9 Agustus.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian menuju Festival Jawa dan selanjutnya akan terhubung dengan agenda Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026. (dkp)






