BANDA ACEH, Kabarjateng.id — Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi, mengajak para kepala daerah memperkuat sinergi lintas wilayah untuk mendorong pembangunan berkelanjutan.
Ia menegaskan, daerah tidak bisa maju sendiri, tetapi harus bergerak bersama melalui kolaborasi yang solid tanpa sekat kepentingan.
Tekankan Sinergi Tanpa Ego Sektoral
Dalam forum di Gedung AAC Prof. Dr. Dayan Dawood, Ahmad Luthfi memaparkan konsep collaborative government sebagai fondasi pembangunan Jateng.
Ia menyatukan 35 kabupaten/kota dalam satu tim besar dengan visi yang sama.
Ia menekankan, setiap daerah harus saling mendukung dan tumbuh bersama.
Selain itu, Ia juga menilai penghapusan ego sektoral menjadi kunci percepatan pembangunan yang merata.
Aglomerasi Jadi Kunci Pertumbuhan
Selain kolaborasi, Ahmad Luthfi menyoroti pentingnya pengembangan kawasan berbasis aglomerasi.
Ia menjadikan wilayah Soloraya sebagai contoh dengan melibatkan tujuh daerah dalam satu kesatuan ekonomi.
Melalui ajang Soloraya Great Sale 2025, kawasan tersebut mencatat transaksi hingga Rp10,7 triliun dalam satu bulan.
Capaian itu membuktikan integrasi wilayah mampu meningkatkan daya saing ekonomi.
Kepala Daerah Harus Jadi “Marketing”
Dalam paparannya, Ahmad Luthfi menekankan peran kepala daerah sebagai motor promosi investasi.
Ia mendorong para pemimpin daerah aktif menawarkan potensi wilayah kepada investor, baik dari dalam maupun luar negeri.
Strategi ini mendorong realisasi investasi Jawa Tengah mencapai sekitar Rp88,5 triliun pada 2025.
Ia juga memanfaatkan setiap agenda luar daerah sebagai sarana promosi dengan melibatkan dunia usaha seperti Kadin dan Hipmi.
Perkuat Industri Tanpa Abaikan Ketahanan Pangan
Di sektor tata ruang, ia menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara pengembangan kawasan industri dan perlindungan lahan pertanian.
Ia mengembangkan kawasan industri dan ekonomi khusus tanpa mengganggu lahan sawah dilindungi sebagai penopang ketahanan pangan.
Kolaborasi Pendidikan dan Program Sosial
Ia memperluas kolaborasi ke sektor pendidikan dengan menggandeng 111 perguruan tinggi untuk mendukung inovasi berbasis riset.
Di bidang sosial, ia menjalankan berbagai program seperti layanan kesehatan Spesialis Keliling, pengentasan kemiskinan, penanganan stunting, sekolah gratis, dan bantuan modal usaha.
Untuk menekan pengangguran, ia memperkuat keterkaitan antara pendidikan vokasi dan kebutuhan industri melalui pendekatan link and match.
“Banyak hal yang bisa kita sinergikan, mulai dari kesehatan, pengentasan kemiskinan, hingga pengembangan potensi daerah. Dengan kolaborasi, kita bisa maju bersama,” tegasnya. (liem)







Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.