SEMARANG, Kabarjateng.id – Wilayah Pemerintah Kota Semarang menjadi pusat aksi bersih-bersih sungai dalam rangka langkah konkret mengurangi risiko banjir wilayah hilir.
Kegiatan yang menjadi bagian dari Aksi Bersih Sampah Serentak se-Jawa Tengah itu dipusatkan ke sungai Tawang Mas, Kelurahan Tawangmas, Kecamatan Semarang Barat, Selasa (24/2).
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, memimpin langsung apel kegiatan bersama ratusan warga, jajaran organisasi perangkat daerah, serta elemen masyarakat.
Dalam laporannya, Agustina menegaskan posisi Kota Semarang sebagai daerah muara sejumlah aliran sungai.
Utamanya koneksi dengan wilayah Kabupaten Demak.
Kondisi itu membuat penanganan sampah menjadi krusial dalam hal pengendalian banjir.
“Habis sahur langsung bersih-bersih sungai. Kami ini muara dari macam aliran air. Maka yang penting, sampahnya harus pergi dari sungai,” ujar Agustina.
Menurutnya, sumbatan sampah menjadi salah satu faktor utama memperparah genangan saat intensitas hujan tinggi.
Karena itu, perlu pembersihan sungai secara rutin dan melibatkan partisipasi aktif masyarakat.
Keterbatasan Alat Berat
Sementara dari data Pemerintah Kota Semarang menunjukkan, pembersihan Sungai Jaten mengangkat sekitar 1,4 ton sampah dengan melibatkan 350 warga.
Kegiatan dari Kali Tawang Mas, kurang lebih juga mengumpulkan 1,1 ton sampah dengan dua dump truck material hasil pengerukan sedimentasi.
Jumlah peserta aksi pada kegiatan itu mencapai sekitar 450 orang.
Agustina mengakui, tantangan utama saat ini adalah keterbatasan alat berat dengan perbandingan panjang serta jumlah sungai yang buruh perawatan.
Meski demikian, ia melihat tren partisipasi masyarakat terus menunjukkan peningkatan.
“Partisipasi warga semakin baik. Ini menjadi kekuatan utama kami karena menjaga sungai tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah,” katanya.
Sebagai upaya mempercepat respons penanganan, Pemkot Semarang telah membentuk Satgas Berlian (Bersih Sungai dan Lingkungan) di setiap kelurahan sejak akhir 2025.
Satuan tugas mempunyai fungsi memantau titik-titik rawan sumbatan dan merespon segera ketika ada laporan, khususnya saat curah hujan tinggi.
“Begitu ada laporan grup, titiknya langsung kita tangani. Ini membuat respons kita jauh lebih cepat,” jelas Agustina.
Langkah itu melengkapi strategi penguatan pengelolaan sampah masyarakat.
Saat ini, Kota Semarang memiliki 1.074 unit bank sampah aktif dan jumlahnya terus meningkat awal tahun 2026.
Program juga menjadi bagian dari gerakan perubahan perilaku yang mendorong tanggung jawab warga atas sampah.
Gerakan “Semarang Wegah Nyampah” muncul dalam momentum ini.
Pemerintah memiliki kesadaran dari hulu dapat mencegah sampah sungai dan saluran air, sehingga fungsi sungai kembali sebagai sistem drainase alami.
Selain pengangkatan sampah, penanaman pohon juga penting untuk bantaran sungai.
Upaya ini memperkuat struktur tanah, mengurangi erosi, serta menjaga keseimbangan ekosistem kawasan.
Wali Kota juga menyampaikan perkembangan rencana pengolahan sampah menjadi energi atau waste to energy yang telah masuk dalam skema Proyek Strategis Nasional.
Secara administratif, proses saat ini sedang menunggu arahan lebih lanjut dari pemerintah pusat perihal investor yang akan terlibat dalam proyek.
Melalui aksi serentak ini, Pemerintah Kota Semarang menegaskan komitmennya menjaga kapasitas sungai tetap optimal, meminimalkan potensi banjir, serta membangun budaya peduli lingkungan secara berkelanjutan. Kegiatan bersih sungai direncanakan terus digelar secara berkala di sejumlah titik sebagai bagian dari strategi menjaga kota tetap aman, sehat, bersih, dan nyaman bagi warganya.(whs)






Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.