SURAKARTA, Kabarjateng.id – Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan IMM Muhammad Abduh Fakultas Agama Islam (FAI) UMS menggelar pelantikan di Auditorium Moh Djazman UMS, Senin (16/2).
Panitia mengemas momentum tersebut dengan peluncuran buku Nalar Futurology Maroon, karya intelektual kolektif kader IMM Shabran.
Kegiatan ini menghadirkan pembina pondok, jajaran pengurus IMM, serta kader IMM Shabran dan Abduh.
Pelantikan Pengurus Baru Perkuat Konsolidasi Organisasi
Panitia memulai acara dengan prosesi pelantikan kepengurusan baru.
Kemudian melanjutkannya dengan agenda peluncuran buku sebagai simbol kesinambungan antara kaderisasi organisatoris dan tradisi intelektual.
Kepala Pondok Shabran UMS, Yayuli, SAg, MPI dan Dwi Kurniadi, Kepala Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan (RPK) IMM Shabran 2025, sekaligus editor dan penggagas buku, resmi menandatangani peluncuran.
Dalam sambutannya, Ustaz Yayuli menegaskan pentingnya menjaga tradisi literasi di kalangan kader mahasiswa.
“Gerakan literasi seperti ini harus terus kita rawat, karena kader yang kuat secara intelektual mampu menjaga arah perjuangan organisasi dan memberi kontribusi nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia menilai kelahiran buku ini menunjukkan bahwa kaderisasi tidak berhenti pada aktivitas struktural, tetapi juga bergerak melalui penguatan gagasan dan pemikiran.
Sementara itu, Dwi Kurniadi menjelaskan bahwa Nalar Futurology Maroon lahir dari proses panjang diskusi, refleksi, dan pergulatan ide yang tumbuh di ruang-ruang kaderisasi.
“Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan, tetapi jejak pemikiran kader yang ingin membaca zaman dengan nalar jernih, kritis, dan bertanggung jawab,” ungkapnya.
Ia menyebut para kader dengan latar belakang keilmuan beragam menulis buku tersebut sehingga menghadirkan perspektif multidisipliner yang saling melengkapi.
Menurutnya, para penulis merespons berbagai fenomena sosial dan tantangan peradaban modern melalui kegelisahan intelektual yang mereka rasakan.
Nalar Futurology Maroon Hadirkan Gagasan Kritis dan Multidisipliner
Adi menegaskan bahwa karya ini menjadi ikhtiar intelektual kader IMM Shabran mengangkat kualitas pemikiran sekaligus menjaga kemurnian moral ideologi IMM.
Ia menambahkan, istilah futurology dalam judul buku bukan ramalan masa depan, melainkan kesadaran kritis untuk membaca kemungkinan sejarah dan merancang arah perubahan.
Menurut Adi, peluncuran buku yang bertepatan dengan pelantikan pengurus baru memiliki makna filosofis.
“Organisasi tanpa gagasan akan kehilangan arah, sedangkan gagasan tanpa gerakan hanya menjadi wacana. Buku ini menjadi titik temu antara keduanya,” katanya.
Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi sepanjang kegiatan.
Banyak kader IMM menyambut positif peluncuran buku karena mereka menilai buku ini dapat menjadi referensi diskusi ilmiah dan pengayaan literasi kader.
Sejumlah peserta bahkan menyatakan minat untuk mengkaji isinya dalam forum kajian lanjutan di komisariat maupun komunitas akademik.
Melalui peluncuran Nalar Futurology Maroon, IMM Shabran UMS menegaskan komitmennya terus menghidupkan tradisi intelektual sebagai fondasi gerakan mahasiswa.
Para kader pun berkomitmen menggabungkan kepemimpinan organisatoris dan produktivitas keilmuan.
Dengan tujuan agar menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat serta melahirkan gagasan relevan, reflektif, dan transformatif sesuai perkembangan zaman. (mf)






Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.