Menu

Mode Gelap
 

Opini · 30 Jan 2026 07:40 WIB

Ngalap Berkah MTQ


					Ngalap Berkah MTQ Perbesar

Oleh: Wahid Abdulrahman

Tahun ini Provinsi Jawa Tengah dijadwalkan menjadi tuan rumah Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat nasional yang rencananya digelar pada bulan September.

Penunjukan tersebut seolah mengulang catatan sejarah ketika ajang serupa pernah berlangsung di Kota Semarang pada 1979.

Momentum ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan peristiwa penting yang memiliki dimensi sosial, budaya, hingga ekonomi.

Jika menilik sejarah, penyelenggaraan MTQ pertama pada 1968 di Makassar tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial politik masa itu.

MTQ hadir sebagai salah satu sarana membangun hubungan yang lebih harmonis antara pemerintah dan umat Islam setelah dinamika nasional pertengahan 1960-an.

Dalam perjalanannya, hubungan tersebut mengalami pasang surut, terutama pada era Orde Baru, hingga kemudian memasuki fase yang lebih akomodatif pada akhir 1980-an dan awal 1990-an.

Sejumlah ilmuwan politik menyebut periode itu sebagai titik balik menguatnya ekspresi Islam di ruang publik.

Kebangkitan tersebut ditandai dengan semakin luasnya simbol, nilai, dan praktik keislaman di berbagai sektor kehidupan, mulai dari lembaga keuangan syariah, media massa bernuansa Islam, hingga maraknya kegiatan religius di instansi pemerintahan.

Dalam konteks kekinian, posisi MTQ tidak lagi semata sebagai jembatan relasi negara dan umat, melainkan lebih sebagai ajang penguatan identitas kebangsaan sekaligus etalase kemampuan generasi Qur’ani Indonesia di tingkat internasional.

Bagi Jawa Tengah sebagai tuan rumah, MTQ memiliki arti strategis. Selain membawa nama baik daerah, ajang ini juga menjadi peluang untuk mencetak qori dan qoriah unggulan yang mampu bersaing di level global.

Target meraih prestasi tentu wajar, terlebih sejarah menunjukkan bahwa tuan rumah kerap memiliki peluang lebih besar untuk menjadi juara umum.

Karena itu, pembinaan intensif serta sinergi antara pemerintah daerah dan Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota menjadi faktor yang sangat menentukan.

Keberhasilan penyelenggaraan juga diukur dari kualitas pelayanan kepada para kafilah yang datang dari seluruh Indonesia.

Ribuan peserta dan pendamping membutuhkan kesiapan infrastruktur, akomodasi, transportasi, hingga sumber daya manusia yang profesional.

Event yang berlangsung lebih dari sepekan menuntut manajemen yang matang agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan tertib dan memberi kesan positif bagi para tamu.

Di luar aspek kompetisi, MTQ berpotensi memberikan dampak ekonomi yang signifikan.

Sektor perhotelan, kuliner, dan transportasi dipastikan merasakan efek langsung.

Lebih jauh lagi, kegiatan ini dapat dimanfaatkan sebagai ruang promosi bagi produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Jawa Tengah agar dikenal lebih luas di tingkat nasional.

MTQ dapat berfungsi layaknya etalase besar yang mempertemukan budaya religius dan geliat ekonomi rakyat.

Momentum ini juga relevan sebagai langkah awal menuju penguatan pariwisata berkelanjutan dan ekonomi syariah yang menjadi arah pembangunan daerah pada tahun-tahun mendatang.

Pemerintah daerah dapat memadukan kegiatan MTQ dengan promosi wisata religi, kuliner khas, hingga destinasi edukatif yang mencerminkan kekayaan budaya Jawa Tengah.

Lingkungan pesantren beserta khazanah literasi klasik seperti manuskrip kitab kuning pun dapat diperkenalkan sebagai bagian dari warisan intelektual Islam Nusantara.

Tidak kalah penting, penyelenggaraan MTQ juga dapat diarahkan pada isu lingkungan melalui konsep “Green MTQ”.

Semangat menjaga alam selaras dengan ajaran Islam sebagai rahmat bagi semesta.

Penggunaan material ramah lingkungan, pengurangan sampah plastik, hingga penyisipan kegiatan bertema pelestarian alam dapat menjadi wujud nyata integrasi nilai religius dan kepedulian ekologis.

Pada akhirnya, MTQ bukan hanya agenda pemerintah provinsi atau satuan kerja tertentu, melainkan hajatan seluruh masyarakat Jawa Tengah.

Kolaborasi lintas sektor—mulai dari pemerintah daerah, Kementerian Agama, LPTQ, perguruan tinggi, organisasi kemasyarakatan, media, hingga dunia usaha—menjadi kunci keberhasilan.

Dengan keterlibatan bersama, MTQ diharapkan tidak hanya melahirkan prestasi, tetapi juga memperkuat rasa memiliki, semangat kebersamaan, serta membawa keberkahan bagi kemajuan dan kesejahteraan Jawa Tengah.

Artikel ini telah dibaca 5 kali

badge-check

Publisher

Tinggalkan Balasan

Kabar Terbaru

Kirab Budaya Haul KH Sholeh Darat 2026 Hidupkan Wisata Religi dan Sejarah di Semarang

18 April 2026 - 18:45 WIB

Polda Jateng Bongkar Peredaran Obat Terlarang di Pekalongan, Satu Pelaku Ditangkap

18 April 2026 - 17:37 WIB

Gagal Salip dari Kiri, Pelajar 17 Tahun Asal Boyolali Meninggal dalam Kecelakaan di Tengaran

18 April 2026 - 17:25 WIB

JQHNU Jateng Tetap Bergerak Meski Kongres PBNU Batal

18 April 2026 - 17:03 WIB

Gus Labib Tekankan Peran JQHNU: Bangun Jejaring dan Perkuat Solidaritas Huffazh

18 April 2026 - 16:48 WIB

KPK Gandeng Pemkab Pati Perkuat Sistem, Tekan Celah Korupsi dari Hulu ke Hilir

18 April 2026 - 13:04 WIB

Trending di Daerah