SEMARANG, Kabarjateng.id – Cuaca Kota Semarang pada Jumat (31/10) sore tampak cerah sepanjang hari, namun Banjir Semarang terlihat belum surut.
Sinar matahari menyengat tanpa awan mendung, namun genangan air pada sejumlah titik belum juga sepenuhnya surut.
Kondisi ini menunjukkan bahwa banjir yang melanda kota sejak awal pekan masih menyisakan persoalan serius dari wilayah utara dan timur.
Dalam keterangan siaran pers resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), air masih bertahan akibat sisa hujan sebelumnya belum sepenuhnya mengalir.
“Pantauan tim Pusdatinkom BNPB, genangan masih ada pada sepanjang Jalan Kaligawe Raya hingga wilayah Genuk,” jelas Abdul Muhari, Ph.D, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Rabu (29/10/2025).
Ketinggian air dari depan RSI Sultan Agung kembali meningkat hingga sekitar 90 sentimeter.
Beberapa truk besar tampak hati-hati melintasi jalur, sementara kendaraan kecil tidak dapat melintas.
“Beberapa truk besar tampak terseok melewati jalur itu, sementara kendaraan kecil sama sekali tak mampu melintas,” jelas Abdul Muhari.
Banjir ini telah mengganggu aktivitas warga dan pekerja kawasan industri Kaligawe.
Banyak pekerja memaksakan diri menumpang kendaraan besar agar tetap dapat mencapai tempat kerja.
Sementara dari pantauan data BNPB, 15 kelurahan, tiga kecamatan, masih dalam rendaman air.
Sebanyak 22.669 jiwa, dengan total 39 jiwa juga harus tetap mengungsi.
Selain itu, adapula musibah menimpa tiga warga yang telah meninggal dunia akibat laka air.
Satu orang sebelumnya dalam pencarian juga dalam keadaan meninggal.
Kinerja Pompa Belum Maksimal
Meski belum optimal membantu percepatan surutnya air, pompa-pompa terus bekerja.
Yakni milik Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Pusat Pengendalian Sarana dan Prasarana Sumber Daya Air (PPSDA) Jawa Tengah, serta BNPB tetap beroperasi pada daerah rawan banjir.
“Untuk mempercepat surutnya air, sejumlah pompa milik BBWS, PPSDA dan BNPB terus operasi,” ungkap Abdul Muhari.
Air yang menggenangi kawasan tengah hingga utara kota itu juga telah menuju dua kolam retensi, kemudian mengalir ke Laut Jawa.
Namun, debit air masih meningkat karena pasokan dari hulu Sungai Tenggang dan Sungai Sringin.
Meski wilayah hilir tidak hujan, daerah hulu justru masih mengalami pembentukan awan hujan baru.
Data radar cuaca Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang menunjukkan adanya awan konvektif dengan potensi hujan sedang hingga lebat.
Kondisi ini membuat proses penyurutan air melambat.
Sementara sekitar pesisir timur, sistem drainasenya juga belum sepenuhnya menyambung dengan jaringan pompa utama.
BNPB Tambah Armada OMC
Untuk menghadapi potensi hujan lanjutan dan mempercepat mitigasi, BNPB menambah armada Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Penambahan ini untuk memperluas jangkauan pengendalian awan pembawa hujan wilayah banjir dan daerah hulu.
Dalam keterangan siaran pers BNPB, bahwa pesawat tambahan untuk menabur bahan semai Natrium Klorida (NaCl) dan Kalsium Oksida (CaO) guna mengendalikan awan yang memiliki potensi menurunkan hujan sekitar Semarang.
Sebelumnya, BNPB telah mengerahkan satu pesawat Cessna Caravan PK-SNM untuk operasi OMC dari Semarang.
Namun karena pembentukan awan yang sangat masif, satu armada pun belum cukup.
Maka dari itu mulai Kamis (30/10) kemarin, pesawat tambahan dikerahkan dengan cakupan operasi lebih luas dan ditempatkan di Lanud Adi Soemarmo, Solo, sebagai posko OMC wilayah selatan Jawa Tengah.
“Melalui penambahan armada udara ini, BNPB berharap upaya percepatan penanganan banjir dan mitigasi tahun depan dapat berjalan lebih optimal,” tandas Abdul Muhari.
Kondisi Terkini dan Langkah Lanjutan
Satgas gabungan dari BPBD Kota Semarang, TNI, Polri, dan relawan tetap melakukan upaya penyedotan serta perbaikan tanggul di sejumlah titik genangan.
Di kawasan industri hingga perumahan padat, pompa portable juga terus dioperasikan untuk mempercepat menurunkan intensitas banjir Semarang yang belum surut.
Namun, karena curah hujan hulu tetap tinggi, debit air banjir Semarang belum bisa surut secara signifikan.
Pemerintah daerah masih menyiagakan posko pengungsian, dapur umum ke beberapa lokasi terdampak, terutama wilayah Genuk, Kaligawe, serta Trimulyo.
Sejumlah warga Semarang sebelumnya mengungsi mulai kembali ke rumah, tetapi tetap waspada terhadap potensi air banjir susulan.
Kondisi hidrologis Semarang yang kompleks, dengan kombinasi antara limpasan dari daerah atas, drainase perkotaan kurang tertata sempurna, serta pasang air laut kerap tinggi, menjadi tantangan utama dalam proses penanganan air banjir.
Oleh karena itu, BNPB menekankan pentingnya kolaborasi mitigasi lintas instansi, upaya jangka panjang membangun sistem pengendalian banjir lebih terpadu.
Langkah sementara yang ditempuh BNPB melalui operasi pompa air dan modifikasi cuaca diharapkan mampu mengurangi genangan hingga banjir secara bertahap sambil memperkuat koordinasi lapangan.
Di sisi lain, upaya mitigasi cuaca BNPB dan pengendalian air saat ini bukan hanya bagian dari penanganan darurat banjir.
Akan tetapi juga strategi pencegahan agar banjir Semarang tahunan yang belum surut tidak terus berulang ke pesisir utara Jawa Tengah ini.
Tim Editor: Wahyu Hamijaya







Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.