Menu

Mode Gelap
 

Headline · 15 Jun 2024 08:30 WIB

Mewujudkan Wonogiri Bebas Demam Berdarah Dengue


					Lorensia Puji Lestari Perbesar

Lorensia Puji Lestari

WONOGIRI, Kabarjateng.id – Demam Berdarah Dengue (DBD) bukan suatu hal yang baru bagi kalangan masyarakat Wonogiri. Setiap tahunnya wilayah Wonogiri mengalami fluktuasi kasus dan jumlah kematian akibat DBD ini.

Demam Berdarah Dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti.

Gejala penyakit DBD ini bervariasi dari yang ringan hingga tingkat yang parah, gejala klinisnya seperti demam tinggi mendadak selama 2-7 hari, muncul bintik-bintik merah, tekanan darah rendah, sakit kepala, nyeri otot, dan sebagainya.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Wonogiri, sejak tahun 2022 sudah tercatat 109 kasus dan 3 orang meninggal akibat penyakit ini.

Bahkan pada tahun 2024 sejak bulan Januari hingga Maret jumlah kasus menyamai total kasus selama tahun 2022. Penularan DBD tidak dapat dianggap remeh, anak-anak usia < 15 tahun dan orang dewasa menjadi rentan terkena DBD, jenis kelamin laki-laki lebih rentan terkena DBD dibandingkan perempuan.

Hal ini didukung dari data Dinas Kesehatan Wonogiri bahwa pada tahun 2022 kasus DBD pada laki-laki melampaui batas hingga mencapai 70 kasus dibandingkan perempuan yang hanya 39 kasus.

Ancaman DBD tidak hanya sekedar nyamuk Aedes aegypti menggigit di waktu pagi atau sore hari, namun berdampak dalam kehidupan sehari-hari.

Dampaknya dari aspek ekonomi masyarakat Wonogiri, terkait biaya pengobatan yang tinggi serta kehilangan produktivitas akibat sakit dapat memberikan beban finasial yang berat bagi keluarga yang terkena dampaknya.

Terlebih jika terjadi kematian akibat DBD, tidak hanya memberikan luka emosional yang mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan melainkan juga adanya konsekuensi ekonomi jangka panjang.

Selain itu, pada aspek sosial masyarakat adanya penyebaran DBD ini, munculnya stigma terhadap individu maupun keluarga yang terkena DBD, hal ini menimbulkan isolasi sosial maupun diskriminasi bahkan setelah pemulihan dari penyakit tersebut.

Hal ini juga dapat berpengaruh terhadap kesejahteraan psikologis individu maupun keluarga yang tidak dapat terbantahkan.

Faktor Risiko dan Pengendalian DBD
Pada persoalan DBD ini tidak sekedar dilihat dari data statistiknya saja, melainkan terdapat lapisan-lapisan yang menyelimuti akar masalah.

Faktor-faktor risiko seperti faktor kondisi tempat tinggal, berdasarkan data Disdukcapil Kab. Wonogiri tahun 2023 dimana Wonogiri termasuk wilayah dengan kepadatan penduduk yang tinggi, total penduduk sekitar 1.072.582 jiwa di antaranya laki-laki 536.848 jiwa dan perempuan 535.734 jiwa.

Faktor lingkungan seperti rumah warga yang kurang pencahayaan atau sinar matahari, jarak rumah warga yang berdekatan sehingga mempermudah nyamuk untuk berkembangbiak dan berpindah karena jangkauan terbang nyamuk Aedes aegpti berkisar 40-100m, adanya kepadatan vegetasi, serta ketinggian wilayah Wonogiri sekitar 141 mdpl, yang cocok untuk tempat perkembiangbiakan nyamuk Aedes aegypti karena nyamuk ini dapat hidup pada ketinggian wilayah < 1000 mdpl.

Faktor perilaku manusia seperti kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat terkait PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) menjadi faktor penyebab tingginya kasus DBD di Wonogiri karena kebiasaan masyarakat yang masih melakukan penumpukan sampah, kebiasaan menggantungkan pakaian, tidak melakukan pembersihan/ menguras bak mandi secara rutin.

Pengendalian DBD di Wonogiri ini diperlukan kolaborasi antara Pemerintah, Camat/ Kepala Desa/ Kelurahan dan Kepala Puskesmas maupun masyarakat setempat dalam upaya pencegahan dan pengendalian DBD.

Pengendalian DBD seperti pemantauan larva jentik (JUMANTIK), sosialisasi (penyuluhan pada masyarakat terkait pencegahan dan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan), serta kegiatan gebrakan PSN Wonogiri (Gerakan Bersama Rakyat dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk) telah menjadi langkah awal yang baik di wilayah Wonogiri.

Namun, diperlukan inovasi baru untuk pengendalian DBD yang disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti di wilayah Wonogiri.

Inovasi Baru Pengendalian DBD
Teknologi Wolbachia dapat menjadi inovasi baru sebagai langkah maju yang menjanjikan dalam pengendalian DBD di Wonogiri.

Penerapan bakteri Wolbachia pada nyamuk Aedes aegypti ini dapat digunakan untuk mengendalikan populasi nyamuk Aedes aegypti pembawa virus dengue yang lebih efektif.

Kesuksesan implementasi teknologi Wolbachia ini tidak hanya bergantung pada aspek teknis semata yang mencakup proses penerapan bakteri Wolbachia pada nyamuk Aedes aegypti dan evaluasi terkait efektivitasnya dalam mengendalikan populasi nyamuk ini, namun juga memerlukan kerja sama antara pemerintah, Camat/ Kepala Desa/ Kelurahan, Kepala Puskesmas dan masyarakat setempat.

Pemerintah dapat memberikan sosialisasi untuk memperkenalkan teknologi Wolbachia ini kepada masyarakat Wonogiri, Camat/ Kepala Desa/ Kelurahan berperan dalam menggerakkan partisipasi masyarakat dalam program pengendalian DBD dengan teknologi Wolbachia ini, kemudian Kepala Puskesmas dapat melakukan pemantauan kasus DBD dan evaluasi program pengendalian dan masyarakat setempat berperan penting dalam peningkatan kesadaran akan kebersihan lingkungan sekitar dalam upaya pengendalian DBD di wilayah Wonogiri.

Adanya kerja sama antara pemerintah, Camat/ Kepala Desa/ Kelurahan, Kepala Puskesmas dan masyarakat setempat ini diharapkan dapat mewujudkan visi Wonogiri sebagai wilayah yang bebas dari ancaman DBD.

Penulis : Lorensia Puji Lestari (Mahasiswi Fakultas Bioteknologi, Universitas Kristen Duta Wacana)

Artikel ini telah dibaca 4 kali

Tinggalkan Balasan

Kabar Terbaru

Pegadaian Kanwil XI Semarang Santuni 20 Anak Yatim Lewat Safari Ramadhan 2026

13 Maret 2026 - 15:45 WIB

PT Pegadaian Kanwil XI Semarang salurkan santunan kepada 20 anak yatim piatu di pondok pesantren dan panti asuhan sebagai bagian Safari Ramadhan 2026.

PLN UP3 Semarang Bagikan 78 Paket Sembako untuk Porter Stasiun Tawang dan Poncol di Ramadan 1447 H

12 Maret 2026 - 22:39 WIB

Sebanyak 78 porter di Stasiun Semarang Tawang dan Poncol menerima bingkisan sembako melalui program Bag of Happiness yang digelar PLN UP3 Semarang bersama Human Initiative.

Djournal Coffee Buka Gerai Perdana di Kota Lama Semarang, Ngopi Modern di Gedung Bersejarah

11 Maret 2026 - 16:42 WIB

Djournal Coffee membuka gerai perdana di Kota Lama Semarang dengan konsep kopi modern di gedung bersejarah, menghadirkan menu khas dan ruang komunitas baru.

Dari Anime ke Lagu Jawa, Musisi Semarang Populerkan Konsep “Jepang Jawa”

9 Maret 2026 - 22:27 WIB

Musisi Semarang Hendra Kumbara menghadirkan konsep “Jepang Jawa”, memadukan rock Jepang ala soundtrack anime dengan lirik bahasa Jawa yang kini viral di media sosial.

Ngabuburit Anti Biasa, 12 Jurnalis Jateng–DIY Jajal Latihan Menembak di Jatidiri Semarang Bareng Yamaha

9 Maret 2026 - 16:28 WIB

Sebanyak 12 jurnalis Jateng–DIY mengikuti pelatihan menembak di Lapangan Tembak Jatidiri Semarang dalam Yamaha Media Gathering sambil ngabuburit Ramadan.

Pegadaian Gelar “Ramadan Bareng Tring” di Yogyakarta, Ajak Generasi Muda Mulai Investasi Emas

9 Maret 2026 - 14:06 WIB

Trending di Ekonomi & Bisnis